Dukung Pembangunan Berkelanjutan : UNIPA Identifikasi 10 Lokus Destinasi Ekowisata Andalan Kabupaten Pegaf

Salah satu desain ekowisata di Pegunungan Arfak oleh tim kajia Unipa Manokwari.

Manokwari – Sebagai bagian dari Tridharma Universitas Papua (UNIPA) dalam mengembangkan kegiatan kajian yang memberikan manfaat bagi daerah dan masyarakat adat, maka Unipa terus berupaya menunjukkan komitmen dalam mendukung implementasi pembangunan berkelanjutan di Provinsi Papua Barat. Salah satunya melalui kegiatan Pemetaan Potensi, Desain Tapak dan Penyusunan Strategi pengembangan Destinasi Ekowisata Andalan Kabupaten Pegunungan Arfak di tahun 2023. Kegiatan kajian Tim Fakultas Kehutanan UNIPA yang dipimpin oleh Ketua Tim, Prof Dr. Ir. Sepus Fatem, S.Hut., M.Sc berlangsung selama 4 bulan, yakni Agustus -Desember 2023.

Menurut Profesor Fatem, seiring dengan platform pembangunan berkelanjutan, maka sektor-sektor hijau berupa jasa lingkungan menjadi fokus dalam rangka percepatan pembangunan di Provinsi Papua Barat. Apa lagi ketika terjadi pemekaran Provinsi Papua Barat Daya, maka dikuti pula dengan segregasi daerah bawahan seperti Kabupaten Raja Ampat, Tambrauw, Sorong Selatan, Maybrat maka konsekuensi bagi provinsi induk yakni mengali potensi dan mendorong pemanfaatan jasa lingkungan lain, salah satunya sektor pariwisata di Kabupaten yang masih menjadi daerah bawahanya. Kalau Raja Ampat, Tambrauw, Sorong Selatan, Maybrat sudah terpisah maka otonomatis pendapat asli daerah (PAD) yang bersumber dari Sektor Pariwisata untuk Papua Barat pun pasti hilang, sehingga perlu penataan dan kajian untuk daerah lainnya.

Bacaan Lainnya

Tim melakukan kajian di Pegunungan Arfak, diawali studi pendahuluan (rapid asesment study) pada bulan September, seminar pendahuluan tanggal 13 November 2023 di Aula Kantor Bupati Pegunungan Arfak di Anggi, dilanjutkan pengumpulan data, analisis dan desain tapak, FGD penyusunan Strategi pengembangan Ekowisata Pegunungan Arfak.

Hasil akhir kajian pun dilakukan seminar dan FGD di Kantor Bupati Pegunungan Arfak tanggal l8 Desember 2023 lalu. Tim kajian UNIPA berjumlah 12 orang, berdasarkan bidang ilmu dan kepakaran yakni tim ahli pemetaan dan desain tapak, tim kajian biologi vegetasi dan satwa liar, tim kajian sosial ekonomi dan budaya , tim analisis kebijakan dan tim sekretariat.

Pengembangan kerjasama ini dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Papua Barat dan Fakultas Kehutanan Unipa dalam rangka penyusunan dokumen Pemetaan dan Desain Tapak Ekowisata Kabupaten Pegunungan Arfak di tahun 2023, tertuang dalam Perjanjian Nomor 009/474/DISBUPAR/PB/VIII/2023 dan Nomor 193/UN42.6/KS.01.01/VII/2023, Jelas Prof Fatem saat di wawancarai awak media di sela kegiatan FGD dan pemantapan dan finalisasi dokumen Indikasi Program dan Kegiatan Pengembangan Pariwisata Pegunungn Arfak di Aula Dekanat Fahutan UNIPA.

Dituturkan bahwa produk akhir yang dilakukan oleh tim Fahutan UNIPA yakni:

1. Visioning Pengembangan Kawasan Ekowisata yang ini disusun dengan mengacu pada visi pengembangan pariwisata di Kabupaten Pegunungan serta dokumen perencanaan lainnya seperti: RPJPD, RPJMD, dan RTRW Kabupaten Pegunungan Arfak.

Baca Juga:  Polisi Periksa 36 Orang Terkait Aksi Demo di Manokwari dan Kota Sorong

2. Rencana Pengembangan Destinasi Wisata dan Tapak sitenya ;

3. Rencana Anggaran Belanja pembangunan ekowisata Andalan Pegunungan Arfak dan;
4. Indikasi program dan kegiatan pengembangan Ekowisata Pegunungan Arfak.

Temuan Tim Fahutan UNIPA dilapangan sangat menarik dimana dipetakan dan teridentifikasi 10 spot lokasi ekowisata potensial andalan yang perlu dikembangkan untuk menjawab kebutuhan industri pariwisata alam, khususnya Ekowisata di Pegunungan Arfak. Tim UNIPA menyebutnya lokasi Ekowisata Potensial Andalan sebab memiliki nilai jual yang unik dan khas dibandingkan dengan tempat lainnya di Papua. Secara umum ditemukan spot ekowisata potensial andalan yakni:
1. Lokasi Ekowisata Pengamatan Burung, Agrowisata Kopi, dan Taman Bunga Kampung Udohotma (Ekowisata Terpadu) Distrik Sururei berada di koordinat 133°54’21.648″E 1°24’1.367″S pada ketinggian 2149 Mdpl ;
2. Lokasi Ekowisata Pengamatan Burung pengamatan burung Cenderewasih (D. magnificus) dan Panorama Alam Kampung Metiede, Distrik Miyambouw berada pada koordinat 133°52’18.312″E 1°7’47.202″S pada ketinggian 1600 Mdpl;
3. Lokasi Ekowisata Pengamatan Burung pintar Namdur (Amblyornis inornatus) Kampung Hungku, Distrik Anggi, pada koordinat133°53’11.681″E 1°19’36.6″S berada di ketinggian 2114 Mdpl.
4. Usulan Tapak Konservasi Insitu species tumbuhan unik Rhododenron sp (mawar Papua) terletak di pinggir sebelah kiri jalan poros Minyambouw-Anggi dan memiliki luas kurang lebih 16 ha , pada koordinat 133°52’51.537″E 1°12’16.767″S di ketinggian 2254Mdpl.
5. Panorama puncak ullong, rumah kaki seribu puncak ullong, Distrik Hink berada di 133°54’45.528″E 1°23’4.604″S dan ketinggian 2405 Mdpl
6. Panorama dan Spot Foto, Air Terjun Memti/Sisrang, Distrik Anggi Gida, pada koordinat 134°0’29.811″E 1°21’4.783″S di ketinggian 1645 m dpl
7. Panorama Puncak Kobrey dan Danau Anggi, Distrik Anggi dan Sururey di 133°54’45.528″E 1°23’4.604″S dan ketinggian 2405 m dpl.
8. Panorama Alam Danau Anggi Gida, Distrik Anggi Gida pada koordinat 133°56’9.812″E 1°24’16.714″S dan ketinggian 1985 Mdpl
9. Wisata Bunga Flower Garden, koordinat 133°53’13.727″E 1°19’29.111″S dan ketinggian 2041 Mdpl
10. Panorama Alam dan Spot Foto Kampung Taige pada koordinat 133°52’32.345″E 1°20’27.883″S dan ketinggian 2040 M dpl.

Menurut Prof Fatem, jika mereviuw dokumen RTRW Kabupaten Pegunungan Arfak, akan terlihat pola ruang Pegunungan Arfak ditetapkan sebagai kawasan strategis geopark, sedangkan fungsi hutan sekitar 277.335 ha (84,07 %) dari total luas Kabupaten merupakan kawasan lindung; Indeks bahaya tanah longsor sangat tinggi (94 %), 80 % wilayah berada pada morfologi pegunungan tinggi dan 61 % kemiringan lahan diatas 40 %. Dengan merefers pada data diatas, maka pilihan akomodatif yang sangat bijak untuk kabupaten Pegunungan Arfak yakni Pariwisata sebagai leading sektor daerah yang terintegrasi dengan pertanian semi modern,

Ekowisata Pegunungan Arfak, sambungnya, sangat unik dan khas karena merupakan perwakilan ekosistem terestrial di kawasan kepala burung pulau Papua yang kaya akan keanekaragamn hayati; terdapat ekosistem danau di ketinggian lebih dari 1700 m diatas permukaan laut. Profesor Fatem mengatakan bahwa jika membuat perbandingan, di Papua hanya Danau Habema di Wamena, Danau Paniai dan Danau Anggi yang berada di ketinggian lebih dari 1500 m dpl, ditempat lain tidak ada. Ini bukti karya Tuhan yang perlu dikelola dengan prinsip berkelanjutan, adil dan bermanfaat.

Baca Juga:  Pemprov Papua Barat Anggarkan Rp 8 Miliar untuk Penanganan Stunting

Lebih lanjut dikatakan, karena berada di zona ketinggian maka kelembaban dan suhu dinginnya tinggi karena topografi wilayah pegunungan bahkan sering disebut kabupaten kulkas. Artinya bahwa keadaan suhu demikian memberikan manfaat ekologi bagi pertanian masyarakat. Produksi jenis sayur dan buah dataran tinggi (kentang, wortel, sawi dan markisa, nenas dan strawbery) maupun keragaman jenis bunga cukup melimpah. Hal ini mendorong konsep Agroekowisata sebagaimana arahan tim UNIPA yakni untuk Destinasi Spot Udohotma dan Kebun Bunga.

Sementara itu, Bupati Pegunungan Arfak Yosias Saroi, SH, MH memberikan apresiasi atas kerjasama ini mengingat pegunungan Arfak merupakan cikal bakal program konservasi di bagian kepala Burung Papua.

“Kita berharap agar Festival Danau Anggi yang pernah dilakukan di tahun sebelumnya dapat dikemas dalam rangka membuka kembali kegiatan pariwisata di Pegunungan Arfak,” katanya.

Bupati menambahkan ‘’Burung Pintar, Pisang Raksasa, rumah kaki seribu, Tarian tumbuk tanah bahkan potensi panorama Danau Anggi telah menjadikan tanah Arfak terkenal oleh sebab itu, kegiatan kajian UNIPA akan mendukung pengembangan ekowisata terintegrasi di wilayah Arfak ke depannya.

Sebelumnya, di sela-sela seminar hasil kajian yang dilaksanakan di Aula Kantor Bupati Pegunungan Arfak, Senin 18 Desember 2023. Bupati Yosias Saroy di didampingi Sekda Pegunungan Arfak (Everd Dowansiba, S.IP., M.Si) Pimpinan OPD, Tokoh Masyarakat Adat Arfak dari Suku Hatam, Sough dan Moile. Tim Dinas Pariwisata Papua Barat diwakili oleh Kepala Bidang Pariwisata dan Promosi, Tim UNIPA di pimpin oleh Prof. Dr. Sepus Fatem, M.Sc; Dr. Ir. Obed Lense, Andre Winawoda, ST, Meliza Worabay, S.Si, M.Si dan Matheus Beljai, S.Hut., M.Si.

Dekan Fakultas Kehutanan Unipa, Dr Jonni Marwa, S.Hut, M.Si menyambut baik kerjasama kajian ekowisata Pegunungan Arfak. Menurutnya, Fahutan Unipa sangat terbuka dan siap bekerjasama dalam rangka membantu pemerintah daerah di Tanah Papua dalam menyusun dokumen ataupun kajian bidang SDA dan Kehutanan, penyusunan perencanaan maupun pemanfaatannya ,termasuk sektor Pariwisata Pegunungan Arfak.

“Fahutan Unipa berterima kasih atas kepercayaan yg di berikan oleh Pemda Papua Barat dalam kegiatan yg melibatkan para ahli dari Fakultas kehutanan Unipa,” papar Dr Joni Marwa, S.Hut, M.Si, Dekan Fakultas Kehutanan Unipa.

Pegunungan Arfak memang sangat sensi dan memilki perbedaan ekosistem dan budaya yang berbeda jauh dengan wilayah etnik lain di Papua Barat. Sebut saja jenis burung cantik kelompok cenderawasih maupun kelompok burung pintar/bower bird, jenis mamalia primitif Landak Moncong panjang, Katak Arfak maupun Kanguru pohon arfak hingga corak kehidupan masyarakat Arfak.
Lebih Lanjut diungkapkan bahwa , kalau membaca buku dan data expedisi para ilmuan dunia ditemukan bahwa koleksi data tumbuhan, satwa dan sosial budaya masyarakat telah dilakukan oleh beberapa tokoh penjelajah alam dunia, yang mula-mula oleh Alfred Russel wallace yang mengunjungi daerah kepala Burung dan Kepulauan Raja Ampat pada tahun 1840-an; Odoardi Beccari dan Luigi d’Albertis yang mengunjungi Pegunungan Arfak pada tahun 1870-an. Ilmuan diatas menjadi pioner bagi gerakan konservasi alam di wilayah Pegunungan Arfak. Kawasan Pegunungan Arfak merupakan habitat dari kurang lebih 110 spesies mamalia dan 320 spesies aves. Diantara ratusan spesies burung, salah satu famili aves yang sudah menjadi perhatian dunia adalah anggota famili Paradisaeidae, yakni cenderawasih. Kawasan Pegunungan Arfak merupakan habitat empat spesies cenderawasih endemic, yaitu Parotia Arfak (Parotia sefilata), Vogelkop Superb-bird-ofparadise (Lophorina niedda), Paradigalla Ekor Panjang (Paradigalla carunculata), dan Astrapia Arfak (Astrapia nigra). Vogelkop Superb Bird-of-Paradise tergolong “spesies muda” karena baru ditemukan pada 2016, pungkas Profesor yang memiliki bidang ilmu konservasi Sumberdaya Alam ini.

Baca Juga:  Dorong Peningkatan Jumlah dan Kualitas Publikasi, Unipa Gelar Penulisan Naskah Jurnal bagi Dosen dan Mahasiswa

Kualitas alam akan menentukan jumlah kunjungan dan minat. Dengan kebijakan Bupati Pegunungan Arfak dan Pemerintah Papua Barat dalam mengenjot sektor pariwisata, merevisi RIPDA Papua Barat, Kabupaten Pegunungan Arfak akan berkembang pada keunggulan yakni Ekowisata gunung yang terpadu dengan potensi SDA lainnya. Akses jalan penghubungan sedang dikerjakan oleh Pemerintah Provinsi dan Daerah, Sedangkan Pembangunan sarana lainya akan dikerjakan pula, sehingga wisatawan akan memilih pegunungan Arfak sebagai lokasi berpetualangan, hal ini disampaikan Sekda Pegunungan Arfak di sela-sela kegiatan FGD di Aula Fahutan UNIPA, 10 Februari 2024.

Untuk ke depannya, kajian Unipa telah berhasil memetakan 10 potensi andalan dan Unik di Pegunungan Arfak, tentunya masih terdapat potensi lainnya. Namun hari ini dokumen Kajian Potensi, Desain Tapak, rancangan RAB dan indikasi program kegiatan, akan membantu pemerintah daerah dalam merumuskan dan mengusulkan rencana pembangunan ke Kementerian/pemerintah pusat sebagai tahap selanjutnya. Umumnya usulan pembangunan fisik dari daerah ke pemerintah pusat akan mensyaratkan 3 unsur: data potensi dan desain tapak, estimasi RAB, kejelasan status lokasi.

“Tim Fahutan UNIPA telah memulai membantu menyediakan pra syarat tersebut dan ini bukti bahwa UNIPA sebagai perguruan tinggi terus meningkatkan tridharma dalam rangka mendukung pembangunan berkelanjutan di Tanah Papua, dan sebagai bagian dari hilirisasi riset yang dilakukan dalam menjembatani temuan ilmiah dan kebutuhan pemerintah daerah dalam perumusan kebijakan pembangunan yang pro environment,” tutup Prof Fatem menutup sesi wawancara. (SM)

Pos terkait