Ini Paparan Bupati Hermus tentang Peran Kaum Bapak di Hadapan Peserta Temunas I PKB GPKAI

Numfor – Bupati Manokwari, Hermus Indou, berbicara mengenai peran kaum bapak dalam keluarga dan masyarakat. Bupati Hermus memaparkan hal itu di hadapan peserta Temu Nasional I Persekutuan Kaum Bapak Gereja Persekutuan Kristen Alkitab Indonesia (Temunas I PKB GPKAI), di GPKAI Jemaat Sion Bawei, Distrik Numfor Timur, Jumat (26/1/2014).

Hermus mengemukakan, bapak adalah orang yang dituakan dalam rumah. Bapak disebut orang tua karena mengalami pendewasaan dan kematangan lebih dahulu, sehingga menjadi produktif.

Bacaan Lainnya

“Karena itu, bapak mempunyai posisi dan peran strategis karena menentukan keberlangsungan hidup SDM lain yakni istri dan anak-anak. Sebagai orang tua bapak wajib membangun hal positif dalam diri agar menjadi berkat bagi keluarga dan lingkungan sekitar,” ungkapnya.

Bapak, lanjut Hermus, juga disebut pemimpin. Pemimpin adalah orang “besar”, orang “atas”, dan punya pengaruh.

Karena itu, bapak sebagai pemimpin harus punya pemikiran besar, hati dan jiwa yang besar, serta kasih dan komitmen yang besar.

” Jadi jangan buat diri kecil di tengah keluarga dengan pemikiran yang kecil karena kita orang besar,” tegasnya.

Pemimpin, lanjut Hermus, juga disebut orang “atas”. Dan sebagai orang atas, bapak yang menjadi pemimpin harus bercahaya dan semua orang bisa menerima manfaat dari cahayanya.

Pemimpin juga disebut orang terdepan dan terhormat. Dengan demikian, kata Hermus, bapak sebagai pemimpin di keluarga bisa menjadi prioritas. Dan disebut terdepan harus menjadi penunjuk arah dan contoh yang baik dalam keluarga.

Baca Juga:  Serahkan STTP, Bupati Hermus Ingatkan CPNS Terus Tingkatkan Kemampuan

Pemimpin, lanjut Hermus, juga disebut kepala. Dan di kepala ada pinca indra dan pikiran. Karena itu, bapak sebagai pemimpin harus berpikir dan membangun pikiran positif.

“Di kepala juga ada indra perasa, sehingga pemimpin pun pandai mengecap dan merasakan apa yang dirasakan orang lain dan hidupnya bisa dirasakan dinikmati oleh orang lain,” tegasnya lagi.

Hermus menambahkan bahwa di kepala jiga ada mata dan telinga. Jadi pemimpin harus punya mata rohani yang baik dan melihat sesuatu dengan jelas. Sementara telinga dipakai untuk mendengar orang lain.

“Jadi pemimpin baik juga pemimpin yang bisa mendengar orang lain. Mudah-mudahan dalam persekutuan kaum bapak ada bapak yang menjadi pemimpin dan orang tua yang hebat bagi keluarga dan masyarakat,” tukas Hermus. (SM7) 

Pos terkait