MANOKWARI – Memperingati Hari Musik Nasional 9 Maret 2026, Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu dan Pemusik (PAPPRI) di Papua Barat berencana menggelar sebuah pertunjukan musik berskala daerah di Manokwari.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga momentum penting untuk mengangkat kembali kekayaan musik tradisional yang mulai terpinggirkan. Hal itu disampaikan Prof. Roberth Hammar, Ketua PAPPRI Papua Barat.
“Kami dari delapan persatuan artis penyanyi dan pelaku seni di Papua Barat akan mengadakan event sekitar tanggal 9 Maret. Kegiatan ini menjadi bagian dari kontribusi kami dalam memperingati Hari Musik Nasional”, ujar Prof. Robert.
Menurutnya, acara yang direncanakan berlangsung selama kurang lebih tiga jam itu akan menampilkan berbagai genre musik, dengan penekanan khusus pada musik tradisional Papua Barat.
“Kita melihat sekarang ini banyak musik tradisional yang sudah mulai jarang dilirik. Generasi muda cenderung lebih tertarik pada musik kontemporer dan modern. Padahal, musik tradisional kita sangat kaya dan memiliki nilai budaya yang tinggi”, jelasnya.
Ia menambahkan kegiatan ini juga menjadi wadah untuk menunjukkan keberagaman ekspresi musik di Papua Barat, mulai dari musik etnik hingga kreasi modern.
Robert Hammar menegaskan kegiatan ini juga menjadi langkah awal untuk mendorong penguatan kebijakan daerah di bidang kebudayaan, khususnya musik.
“Ke depan, kami ingin kegiatan seperti ini tidak berhenti sebagai seremoni saja. Kami akan menindaklanjuti dengan mendorong lahirnya peraturan daerah tentang kemajuan kebudayaan. Saat ini, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten, regulasi khusus terkait hal ini masih sangat terbatas”, ungkapnya.
Ia menilai keberadaan regulasi sangat penting untuk memberikan perlindungan dan kepastian bagi para pelaku seni, termasuk musisi dan penyanyi daerah.
“Kalau ada payung hukum yang jelas, maka perlindungan terhadap karya, kesejahteraan pelaku seni, serta pengembangan ekosistem musik daerah bisa lebih terarah”, katanya.
Kolaborasi dengan Pemerintah
Dalam pelaksanaannya, panitia juga berencana membangun komunikasi dengan berbagai pihak, termasuk Kementerian Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif, Dinas Kebudayaan tingkat provinsi dan kabupaten, serta unsur bagian hukum pemerintah daerah.
“Kami ingin kegiatan ini terhubung dengan program pemerintah, baik di pusat maupun daerah. Musik bukan hanya soal hiburan, tapi bagian penting dari kebudayaan dan identitas daerah”, tegas Prof. Robert.
Ia berharap peringatan Hari Musik Nasional tahun ini dapat menjadi titik awal kebangkitan musik tradisional Papua Barat sekaligus memperkuat posisi para pelaku seni dalam pembangunan kebudayaan daerah.
“Harapan kami sederhana, musik tradisional tidak hilang ditelan zaman, dan para pelaku seni mendapatkan tempat yang layak dalam sistem kebudayaan kita”, tutupnya. (SM)





