Penutupan Retreat, Bupati Hermus Indou Sampaikan Sejumlah Pesan bagi Hamba Tuhan

MANOKWARI – Bupati Manokwari, Hermus Indou menyampaikan sejumlah pesan kepada para hamba Tuhan. Pesan itu ia sampaikan dalam penutupan Retreat dengan tema Character Building With GOSPEL Principles di Hotel Aston Niu Manokwari, Kamis (26/2/2026).

Hermus Indou mengatakan hamba Tuhan mengemban peran sebagai pemimpin.

Bacaan Lainnya

“Banyak definisi pemimpin. Tapi menurut saya, pemimpin adalah kepala, bukannya ekor. Yang namanya kepala punya panca indera seperti mata, telinga, hidung dan mulut,” tegas Hermus Indou.

Selain itu, ia mengingatkan pemimpin identik dengan orang besar. Ia berharap para hamba Tuhan bisa merasakan dirinya sebagai orang besar di tengah-tengah masyarakat.

“Kalau orang besar, ya tidak boleh punya karakter dan tidak boleh punya jiwa yang kecil. Harus berlaku dan bermimpi serta bervisi besar. Itu pemimpin. Ia menjadi cahaya dalam kondisi apapun,” ucapnya.

Dia juga mengumpamakan pemimpin dalam setiap kegiatan biasanya duduk di depan. Hal itu menandakan pemimpin ialah citra dan teladan bagi jemaat. Para hamba Tuhan, kata Hermus Indou, adalah potret dari jemaat.

Selain itu, pemimpin merupakan pusat pembelajaran publik. Banyak hal yang tidak diketahui publik, maka pemimpin harus memberitahukan.

“Pemimpin juga harus mampu mencerdaskan rakyat atau umat dengan hal-hal yang baik. Karena tidak semua umat itu punya pengetahuan yang sama,” jelasnya.

Hamba Tuhan kata Hermus Indou menjalankan dua tugas yakni sebagai pelayan Tuhan dan melayani pekerjaannya. Keduanya merupakan hal yang berbeda tetapi harus bisa berjalan beriringan.

Baca Juga:  Bersilaturahmi dan Buka Puasa Bersama, Bupati Hermus Semangati Warga Binaan Lapas Kelas IIB Manokwari

Hermus Indou lebih lanjut menyatakan Pastor’s Retreat tidak lahir begitu saja tetapi dilatarbelakangi oleh permasalahan mendasar yang dihadapi bersama.

Tantangan moral dan spiritual di tengah-tengah masyarakat semakin kompleks, gejala sosial seperti krisis keteladanan, lemahnya karakter, pergeseran nilai-nilai kekeluargaan serta maraknya praktek yang tidak selaras dengan nilai Injil, menjadi keprihatinan semua pihak.

Sasaran Retreat disebutnya adalah untuk membangun kembali identitas dan karakter para pelayan Tuhan sehingga menjadi teladan nyata di tengah jemaat dan masyarakat.

“Juga untuk memperkuat integritas lintas denominasi dalam menghadapi persoalan sosial keagamaan secara bersama-sama tanpa kehilangan identitas iman masing-masing,” terang Hermus Indou.

Ditambah Retreat digelar untuk menyiapkan hamba Tuhan dan pengurus lembaga keagamaan sebagai agen transformasi yang tidak hanya aktif dalam gereja tetap juga terlibat aktif dalam pembangunan mental spiritual masyarakat secara luas.

“Kami memiliki harapan besar dari hasil retreat ini. Agar nilai-nilai kehambaan yang diteladankan Tuhan Yesus Kristus makin terinternalisasi dalam diri setiap peserta sehingga pelayan yang lahir adalah pelayan yang rendah hati, melayani dan berorientasi pada kesejahteraan umat,” ungkapnya.

“Serta terjalinnya komitmen bersama antar gereja dan pemerintah untuk bergandengan tangan mewujudkan visi kabupaten dan daerah lainnya di Provinsi Papua Barat. Serta lahirnya pelayanan sosial yang konkrit dan berkelanjutan dari lembaga keagamaan kristen yang langsung menyentuh kebutuhan dasar masyarakat,” tutup Hermus Indou.

Sebelumnya, Ketua Badan Kerjasama Antar Gereja (BKAG) Manokwari, Pendeta Hugo Warpur menyampaikan apresiasinya dan terimakasih atas dukungan dari Pemkab Manokwari, Pendeta Antakirana dari YISA dan Anggota DPD RI Dapil Papua Barat, Yance Samonsabra yang mendukung pelaksanaan kegiatan selama dua hari dan diikuti 111 peserta tersebut. (SM)

Pos terkait