KOTA SORONG – Anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, Paulus Waterpauw, menyampaikan pembangunan di Papua tidak boleh hanya berorientasi pada fisik semata, melainkan mesti menempatkan manusia, khususnya orang asli Papua sebagai pusat pembangunan. Keberhasilan tidak semata diukur dari besarnya investasi, infrastruktur, maupun proyek nasional yang dibangun, tetapi juga sejauh mana masyarakat Papua merasakan manfaat nyata dalam kehidupannya.
Berkaitan dengan konteks Proyek Strategi Nasional (PSN) ketahanan pangan dan energi yang tengah berjalan dengan membuka jutaan hektare kawasan hutan alam di wilayah Asmat, Mappi, Merauke, dan Boven Digoel, ia menilai pendekatan dialog menjadi langkah yang sangat penting untuk keberlanjutan pembangunan. Setiap persoalan, polemik, maupun hambatan yang muncul dalam pembangunan harus diselesaikan dengan duduk bersama dan mencari solusi terbaik yang tetap mengedepankan kepentingan masyarakat.
Anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, Paulus Waterpauw, menyampaikan pembangunan di Papua tidak boleh hanya berorientasi pada fisik semata, melainkan mesti menempatkan manusia, khususnya orang asli Papua sebagai pusat pembangunan. Keberhasilan tidak semata diukur dari besarnya investasi, infrastruktur, maupun proyek nasional yang dibangun, tetapi juga sejauh mana masyarakat Papua merasakan manfaat nyata dalam kehidupannya.
Berkaitan dengan konteks Proyek Strategi Nasional (PSN) ketahanan pangan dan energi yang tengah berjalan dengan membuka jutaan hektare kawasan hutan alam di wilayah Asmat, Mappi, Merauke, dan Boven Digoel, ia menilai pendekatan dialog menjadi langkah yang sangat penting untuk keberlanjutan pembangunan. Setiap persoalan, polemik, maupun hambatan yang muncul dalam pembangunan harus diselesaikan dengan duduk bersama dan mencari solusi terbaik yang tetap mengedepankan kepentingan masyarakat. (SM14)






