TELUK BINTUNI – Satu hari menjelang dimulainya babak perlombaan, Dewan Juri Pesta Paduan Suara Gerejani (PESPARANI) Katolik IV Tingkat Provinsi Papua Barat menggelar Technical Meeting (TM) krusial bersama seluruh pelatih paduan suara.
Pertemuan teknis yang berlangsung intens ini menjadi momentum final bagi para juri dan pelatih untuk menyamakan persepsi mengenai arah serta indikator penilaian.
Pertemuan strategis tersebut dihadiri langsung oleh jajaran dewan juri, di antaranya Prof. Dr. Perry Rumengan, M.Sn., Romo Harry Hermanus Singkoh, MSC, dan Veronika Silvia Rettob.
Kehadiran para pakar musik gerejani dan tokoh liturgi ini memberikan penguatan mendalam bagi kesiapan teknis maupun spiritual para pelatih sebelum mendampingi tim mereka naik ke panggung perlombaan esok hari.
Dalam forum tersebut, Dewan Juri menegaskan kepada para pelatih bahwa penilaian dalam ajang PESPARANI memiliki dimensi yang jauh lebih dalam dibandingkan dengan festival paduan suara umum. Fokus utama penilaian tidak hanya bertumpu pada kesempurnaan teknis vokal atau keindahan pertunjukan semata.
Dalam arahannya, Prof. Dr. Perry Rumengan, M.Sn., memberikan penekanan kuat di hadapan para pelatih mengenai esensi sejati dari kompetisi suci ini. Beliau mengingatkan bahwa PESPARANI pada hakikatnya adalah sebuah pernyataan atau manifestasi iman umat.
PESPARANI ini menjunjung tinggi prinsip Musica Sacra (Musik Kudus). Kita harus ingat kembali bahwa nyanyian dalam liturgi adalah doa yang dinyanyikan. Oleh karena itu, penilaian yang kami lakukan akan melihat pada kelayakan dan kepantasannya dalam konteks peribadatan, bukan sekadar performing artistik secara musik,” tegas Prof. Perry saat memberikan pemaparan.
Pernyataan ini menjadi rambu-rambu penting yang disepakati bersama oleh juri dan para pelatih. Di sisa waktu yang sangat singkat menjelang hari-H, para pelatih diingatkan agar tidak hanya mengejar ketepatan nada dan harmonisasi yang megah, melainkan juga membimbing tim mereka untuk mampu menghantarkan jiwa dari lagu sebagai bentuk komunikasi spiritual yang pantas dalam peribadatan.
Melalui penyamaan persepsi dalam Technical Meeting, diharapkan para pelatih dari kabupaten/kota se-Papua Barat dapat mematangkan performa tim yang seimbang juga memadukan kualitas musikalitas yang matang dengan kedalaman penghayatan iman yang murni saat tampil esok hari. (SM)






