MANOKWARI – Jelang peringatan hari Mangrove sedunia pemerintah Manokwari akan menanam 256 ribu bibit mangrove di Pulau Nusmapi pulau lemon, Sowi 4 dan kampung Wamesa melalui pemberdayaan masyarakat setempat.
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran, Kerusakan Lingkungan Hidup dan Keanekaragaman Hayati, Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Kabupaten Manokwari, Yohanes Ada’ Lebang, mengatakan melalui momentum peringatan Hari Mangrove Sedunia yang diperingati setiap tanggal 26 Juli, diharapkan edukasi dan sosialisasi terus ditingkatkan tentang pentingnya menjaga lingkungan dan mitigasi bencana kepada masyarakat pesisir. Mitigasi merupakan upaya preventiv untuk meminimalkan dampak bencana yang diantisipasi akan terjadi di masa mendatang. Mitigasi bencana sangat penting karena suatu bentuk investasi jangka panjang bagi kesejahteraan masyarakat sekitar.
“Melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Mangrove Tahun 2021, perlu dihijaukan kembali dan mengembalikan habitat tanaman Mangrove (mangi-mangi/bakau) seperti puluhan tahun lalu, yang sangat bermanfaat bagi ekonomi keluarga dan pelestarian lingkungan pesisir pantai, karena Mangrove merupakan sumberdaya pesisir dan laut yang dapat dipulihkan,” jelas Jo, sapaan akrabnya.
Selain sebagai fungsi penyedia jasa lingkungan di wilayah pesisir dan laut (pariwisata), kestabilan ekosistem pesisir pantai dan laut merupakan suatu hal yang jarang diperhatikan oleh hampir semua orang yang baik yang di luar maupun yang berkecimpun di dalam pemanfaatan ekositem pantai tersebut. Sehingga pencemaran yang terjadi di daerah pesisir pantai dan laut dianggap biasa-biasa saja karena hal itu hampir tidak dipedulikan. Padahal pencemaran pesisir pantai dan laut merupakan hal yang memang harus kita atasi sebagai lingkungan hidup kita sendiri.
Kegunaan hutan mangrove antara lain merupakan spawning ground, nursery ground dan feeding ground bagi berbagai jenis satwa air maupun satwa darat. Selain itu, dapat digunakan pula sebagai bahan bakar, bahan bangunan, obat-obatan serta dapat melindungi pesisir dari hempasan ombak, gelombang pasang, badai serta dapat menahan sedimen dan mencegah terjadinya abrasi pantai.
“Adapun jenis tanaman Mangrove yang berada di pesisir pantai Manokwari dari 9 (Sembilan) jenis yang telah diinventarisasi sebanyak 5 (lima) jenis yaitu : Brugueira ghymnorizha, Rhizophora stylosa, Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata dan Ceriops tagal. Sehingga sejak pembibitan, penanaman pemeliharaan hingga akhir tahun 2021 dapat berjalan lancar dan berhasil dengan baik untuk keberlanjutan program ditahun 2022 dan seterusnya serta dapat bermanfaat untuk pendapatan ekonomi keluarga dan untuk Manokwari,” tutur Lebang
Dengan Program PEN Mangrove diharapkan adanya pemahaman dan keseimbangan dalam pemanfaatan wilayah pesisir oleh pemilik Hak ulayat yang perlu dijaga setiap saat dari kerusakan lingkungan pesisir saat ini. Kecendrungan meningkatnya degradasi lingkungan pesisir antara lain ditandai dengan meningkatnya kerusakan habitat (mangrove, terumbu karang, dan padang lamun), perubahan garis pantai yang diakibatkan oleh abrasi dan erosi serta pencemaran lingkungan.
Sehingga, rusaknya ekosistem berarti rusak pula sumberdaya di dalamnya. Agar akibat negatif dari pemanfaatan beranekaragam dapat dipertahankan sekeci-kecilnya dan untuk menghindari pertikaian antar kepentingan, serta mencegah kerusakan ekosistem di wilayah pesisir, pengelolaan, pemanfaatan dan pengembangan wilayah perlu berlandaskan perencanaan menyeluruh dan terpadu yang didasarkan atas prinsip-prinsip ekonomi dan ekologi pencemaran, degradasi fisik habitat, over eksploitasi sumberdaya alam. Selamat memperingati Hari Mangrove Sedunia, Salam Lestari. (SM)