Pemprov Papua Barat Bermitra Dalam Inisiatif Global Pemulihan Populasi Hiu Belimbing Di Raja Ampat

Telur-telur Hiu belimbing yang telah disiapkan untuk proyek StAR.

RAJA AMPAT – Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Papua Barat bekerja sama dengan para pihak untuk upaya pemulihan populasi hiu belimbing di perairan Kepulauan Raja Ampat. Tujuh telur hiu belimbing yang secara genetik sesuai dengan populasi di Raja Ampat tiba di Sorong pada 10 Agustus 2022, dan saat ini telur-telur tersebut sedang dalam proses pemeliharaan di tempat penetasan lokal hingga akhirnya nanti akan dilepasliarkan di Kawasan Konservasi di Perairan Kepulauan Raja Ampat untuk meningkatkan populasi asli yang hampir punah sebagai bagian dari upaya global untuk pelestarian spesies tersebut.

Telur-telur tersebut sebelumnya dirawat dalam akuarium penangkaran di luar negeri sebagai bagian dari upaya kolektif secara global yang merupakan inisiatif pertama di dunia, dan telah dikoordinasikan secara intensif dengan berbagai pemangku kepentingan di tingkat pusat dan provinsi, termasuk Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Badan Penelitian dan Inovasi Nasional (BRIN).

Bacaan Lainnya

Upaya ini didukung oleh ReShark, sebuah upaya konservasi internasional yang beranggotakan lebih dari 60 institusi akademik, kebun binatang dan akuarium, lembaga nirlaba, dan lembaga pemerintah yang mendedikasikan untuk memulihkan spesies hiu dan pari di seluruh dunia. Upaya konservasi tersebut dinamai dengan “Proyek StAR (Stegostoma tigrinum Augmentation and Recovery)”, yang diambil dari nama ilmiah hiu belimbing (Stegostoma tigrinum).

Proyek ini secara resmi dimulai sekitar tiga tahun lalu oleh sebuah kelompok yang terdiri dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi, lembaga pengelola akuarium, LSM konservasi, lembaga pendidikan di Indonesia. Pada bulan Mei 2021, Pemerintah Provinsi Papua Barat memperkuat komitmen dengan menyelenggarakan pertemuan tingkat tinggi yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk mendukung proyek ini termasuk KKP, Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (sekarang BRIN), LSM, Komite Pengarah StAR Proyek, dan Staf Khusus Presiden Republik Indonesia, Billy Mambrasar.

Komitmen kuat pada Proyek StAR tidak akan terwujud tanpa kepemimpinan dan komitmen yang kuat dari Pemerintah Indonesia, khususnya Provinsi Papua Barat sebagai provinsi pembangunan berkelanjutan. Pemerintah Provinsi Papua Barat merupakan pemimpin global yang mengembangkan kawasan konservasi perairan yang efektif, serta suaka hiu dan pari yang akan melestarikan anakan hiu-hiu belimbing ini ketika mereka dilepaskan di Kawasan Konservasi di Perairan Kepulauan Raja Ampat. Dukungan dari para pemimpin dan lembaga pemerintah di Indonesia telah memberikan kontribusi yang besar bagi keberhasilan memajukan strategi konservasi baru ini.

Penjabat Gubernur Papua Barat Komjen Pol (Purn) Drs. Paulus Waterpauw, M.Si menegaskan bahwa Upaya Pemulihan Populasi Hiu Belimbing atau StAR Project ini merupakan bentuk komitmen Pemerintah Provinsi Papua Barat dalam implementasi Kebijakan Pembangunan Berkelanjutan di Provinsi Papua Barat, sesuai Perdasus Nomor 10 Tahun 2019. Dimana proyek ini dalam jangka panjang ini tentunya akan menunjang kegiatan ekowisata di Papua Barat dan meningkatkan kapasitas para pemuda di Raja Ampat nantinya. Pemerintah Provinsi Papua Barat pun akan terus mendukung dengan kemampuan yang dimiliki dan tetap membuka diri untuk bekerja sama dengan Konsorsium ReShark dan berharap bukan hanya untuk Hiu Belimbing saja tetapi juga terhadap hewan-hewan terancam baik terestrial maupun aquatik lainnya.

“Ini menjadi kebanggaaan kita semua karena keberhasilan uji coba pengiriman telur ini bertepatan dengan moment spesial bagi Bangsa Indonesia, menjadi kado pada peringatan HUT ke-77 Kemerdekaan Republik Indonesia” ujar Paulus Waterpauw.

Kepala BRIDA Provinsi Papua Barat yang bertanggung jawab atas proyek StAR, Profesor Charlie D. Heatubun, mengatakan bahwa proyek ini merupakan sebuah pendekatan inovatif untuk mengembalikan hiu belimbing sebagai spesies penting di Raja Ampat yang merupakan jantung keanekaragaman hayati dunia. Sebagai spesies kharismatik, menurutnya upaya pemulihan populasi hiu ini akan membangkitkan pariwisata penyelaman (diving) yang telah berkembang baik di Raja Ampat, lalu melalui kerja sama dengan berbagai mitra nasional dan internasional, proyek StAR diharapkan akan memberikan peluang riset dan inovasi yang menarik bagi para peneliti muda di Papua Barat. Sehingga Upaya untuk membangun kembali populasi hiu belimbing merupakan agenda nasional dalam rangka melestarikan spesies terancam punah yang juga memiliki nilai penting secara ekonomi dan ekologi ini.

“Proyek ini menunjukkan komitmen kuat Pemerintah Provinsi Papua Barat untuk menjaga kesehatan lingkungan dan perlindungan spesies, sehingga dapat memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat Papua Barat lewat pariwisata berkelanjutan,” Ujar Prof. Charlie Heatubun.

Lebih lanjut, Peneliti Ahli Madya dari Pusat Riset Oseanografi dalam BRIN, Dr. Fahmi, menjelaskan bahwa dalam hal konservasi hiu, termasuk konservasi hiu belimbing, telah dilakukan di tingkat nasional melalui rencana aksi nasional konservasi hiu dan pari, yang kemudian dilanjutkan dengan pengelolaan pada daerah atau kawasan yang menjadi habitat penting bagi spesies ini seperti Kawasan Konservasi Kepulauan Waigeo sebelah barat dan laut sekitarnya, lalu Kawasan Konservasi Kepulauan Raja Ampat serta laut sekitarnya didalam wilayah Provinsi Papua Barat. Sehingga proyek ini merupakan kolaborasi multipihak untuk memulihkan populasi hiu belimbing, khususnya di perairan Kepulauan Raja Ampat. Selain berdampak bagi konservasi, kegiatan ini juga akan membuka peluang bagi peneliti dan akademisi untuk kajian terkait berbagai aspek antara lain biologi, ekologi, teknik budidaya, dan kesehatan ekosistem laut.

“Model restorasi hiu belimbing ini baru pertama kali di Indonesia bahkan di dunia, sehingga diharapkan dapat mengangkat profil Indonesia tentang upaya konservasi dan inovasi ilmiah terkait hiu belimbing di mata internasional” jelas Dr. Fahmi.

Selain itu, Kepala Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang, Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut KKP, Imam Fauzi menjelaskan, bahwa Hiu belimbing merupakan salah satu spesies hiu yang masih sering ditangkap dan diperdagangkan di Indonesia. Secara global, hiu belimbing ditetapkan sebagai spesies terancam punah, sehingga menurutnya dengan penetapan kawasan konservasi di perairan Raja Ampat merupakan salah satu upaya BKKPN untuk melestarikan dan memulihkan kesehatan ekosistem perairan dan juga spesiesnya.

“Karena itu, upaya pelestarian hiu belimbing ini akan mendukung pemulihan populasi mereka di Kawasan Konservasi Kepulauan Waigeo Sebelah Barat dan Laut Sekitarnya yang pada akhirnya membawa efek limpahan ke seluruh ekosistem perairan di Kepulauan Raja Ampat.” jelas Imam Fauzi.

Direktur Program Konservasi dan Kemitraan di Seattle Aquarium dan Ketua Komite Pengarah Proyek StAR. Dr. Erin Meyer pun menjelaskan bahwa dalam beberapa dekade terakhir, sejumlah kebun binatang dan lembaga pengelola akuarium yang terakreditasi, telah sukses mengembangbiakkan hiu belimbing secara eksitu dengan tujuan untuk mengembangkan populasi yang berkelanjutan. Dedikasi dan pengelolaan ilmiah ini memungkinkan lembaga-lembaga tersebut untuk mengembalikan telur-telur hiu belimbing ke alam dengan harapan untuk memulihkan populasinya. Turut dijelaskannya, kedatangan tujuh telur hiu belimbing di Indonesia merupakan kerja keras selama bertahun-tahun dari ratusan ahli dari 13 negara, dimana semua dengan tujuan bersama untuk mengembalikan hiu belimbing kembali mencapai catatan sejarahnya di Raja Ampat.

“Ini hanyalah permulaan. Model inovatif untuk upaya konservasi hiu ini merupakan yang pertama di dunia, dan kami berencana untuk menerapkan apa yang kami pelajari untuk memulihkan spesies hiu dan pari terancam punah lainnya di dunia.” ujar Dr. Erin Meyer.

Seperti yang akan dijelaskan, telur-telur hiu belimbing ini tiba dari SEA LiFE Sydney Aquarium di Australia yang merupakan salah satu dari empat fasilitas zoologi yang ada di dunia, telah secara resmi diundang menjadi pihak yang mengembangbiakkan hiu belimbing untuk proyek ini. Sebelum dipilih, pihak akuarium
melakukan serangkaian uji DNA untuk memastikan bahwa hiu belimbing yang akan dikembangkan sesuai dengan populasi hiu belimbing di Raja Ampat, pihaknya telah terlebih dahulu memberikan informasi rinci tentang risiko penyakit, serta berkomitmen untuk mendukung pengembangbiakkan hiu belimbing yang sesuai.

Dijelaskan Kurator Regional Australia/Selandia Baru dengan Merlin Entertainments yang berbasis di SEA LiFE Sydney Aquarium, Laura Simmons, bahwa, pada saat pengiriman telur, tim ahli di SEA LIFE Sydney Aquarium dengan hati-hati mengemas telur masing-masing dalam wadah dengan 16 liter air beroksigen, ditutup rapat dengan karet gelang, dan menempatkannya dengan aman di dalam kotak pengiriman yang disegel dan diberi label. Ketujuh kotak itu memiliki berat total 140 kg. Metode pengemasan ini memastikan perjalanan yang aman untuk telur serta kualitas air yang diperlukan untuk transit hingga 40 jam.

“Tim perawat hewan kami bekerja sama dengan sesama ahli untuk memastikan keamanan dan kelangsungan hidup telur dalam pengiriman ke Indonesia,” kata Laura Simmons,

Partisipasi Mitra-Mitra Setempat Masyarakat setempat di Raja Ampat telah membangun tempat pembibitan yang dirancang khusus untuk perawatan telur dan anakan hiu belimbing. Sistem penunjang kehidupan hiu belimbing ini memanfaatkan perairan sekitar untuk habitat telur-telur dan anakan hiu belimbing. Sebuah tim yang terdiri dari masyarakat setempat juga sudah diberi pelatihan di Jakarta Aquarium dan Safari pada bulan Maret tahun 2022 untuk mempelajari teknik penanganan, pengembangbiakan, dan perawatan hiu. Akuaris yang baru dilatih ini akan merawat telur dan anakan hiu belimbing. Saat telur menetas, telur telur akan dirawat oleh para akuaris Indonesia, dan Hiu-hiu belimbing akan terus berkembang di tempat pembenihan hingga mencapai setidaknya 70 cm dan 1 kg, serta menunjukkan kemampuan untuk mencari makan secara mandiri. Kemudian para ahli akan melakukan penilaian atas kesehatan mereka, menandai mereka untuk pemantauan lanjutan, dan melepaskan mereka ke dalam Kawasan Konservasi di Perairan Kepulauan Raja Ampat.

“Upaya ini benar-benar menggarisbawahi relevansi kebun binatang dan akuarium, serta misi kolektif kami untuk membantu melindungi dan menjaga spesies.” lanjut Laura Simmons.

Disampaikan Manajer proyek StAR di Indonesia, Nesha Ichida, Proyek StAR telah mengajak para pemimpin konservasi dan masyarakat di Indonesia sejak awal. Menurutnya, dengan kepemimpinan dari mitra-mitra di Indonesia ini, proyek StAR, yang merupakan bagian dari inisiatif ReShark dan bekerja sama dengan masyarakat di Raja Ampat, harus dapat memastikan proyek ini bisa berkelanjutan dalam jangka panjang dengan skema berbagi sumber daya, membangun kapasitas lokal, dan bersama-sama menciptakan peluang pendidikan publik terkait spesies hiu belimbing.

“Dan dengan memusatkan keahlian lokal dan membangun kapasitas untuk kepemimpinan lokal, kami memastikan bahwa tim mempertimbangkan pengetahuan, kebutuhan, dan perspektif lokal dalam pengambilan keputusan guna memastikan proyek tersebut layak, efektif, dan bertahan lama.” kata Nesha Ichida. (SM14)

Pos terkait