Rawat NKRI, Pangdam XVIII/Kasuari : Belajar Dari Papua Barat

Pangdam
Pangdam XVIII/Kasuari

MANOKWARI – Kerukunan dan toleransi di wilayah Papua rupanya menjadi barometer bagi Indonesia untuk merawat keharmonisan hidup berdampingan sebagai makhluk sosial.

Kekayaan beragama, suku, ras dan budaya menjadi modal utama untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang saat ini tengah diganggu oleh kelompok-kelompok tidak bertanggung jawab.

Bacaan Lainnya

Pangdam XVIII/Kasuari Mayjen TNI. I Nyoman Cantiasa, S.E., M.Tr (Han) menyerukan masyarakat di Papua dan Papua Barat tidak terprovokasi dengan aksi-aksi yang ingin menghancurkan kerukunan di tanah Papua. Hal inipun tidak terlepas dari peran tokoh agama, adat bahkan tokoh masyarakat.

“Luar biasa kerukunan yang tercipta di Papua Barat yang harmoni, ini yang harus kita pertahankan. Apresiasi harus kami berikan kepada tokoh agama yang sudah membina ketaqwaan umat,” ungkap Pangdam XVIII/Kasuari, Rabu (31/3/2021).

Menjaga kerukunan yang berdampak pada terciptanya keamanan dan kenyaman di tengah masyarakat rupanya dengan memperkuat iman dan taqwah seluruh denominasi agama.

Dari catatannya, Mayjen TNI. I Nyoman mengaku Papua Barat memiliki indeks kerukunan tertinggi di Indonsia karena mampu menjaga toleransi antar umat beragama bahkan suku dan budaya.

“Sebab tugas dari pemimpin itu memberikan kesejahteraan dan bahagia bagi umat, bukan berarti uang tapi lebih dari itu soal keimanan menyongsong optimisme hidup yang lebih baik,” tambahnya.

Kata Pangdam, setiap tindakan melawan hukum tentu memiliki konsekuensi. Oleh karenanya, upaya penegakan hukum akan tetap dilakukan terhadap oknum-oknum tersebut dalam memberantas kegiatan-kegiatan yang merugikan banyak orang.

Baca Juga:  Papua Barat Dapat Alokasi APBN Rp17,25 Triliun, Temongmere Harap Ada Output di Masyarakat

“Kami mengutuk keras tindakan yang berlawanan dengan NKRI. Karena Tuhan ciptakan kita bukan untuk saling membunuh, tapi saling membantu,” tutup Cantiasa. (SM3)

Pos terkait