Wisatawan Domestik Pecinta Bawah Laut Raja Ampat Jadi Target Utama Trip Wisata ini

  • Whatsapp
Pengalaman unik dikelilingi kerumunan ikan-ikan kecil di Jetty Kampung Meosmanggara

WAISAI, RAJA AMPAT – Keindahan bawah laut Raja Ampat yang indah dan menawan masih kurang diminati wisatawan domestik, persoalan biaya menjadi hadangan utama wisatawan Indonesia ini untuk menikmati surga bawah laut yang telah terkenal didunia. Namun, Yayasan Reef Check Indonesia (YRCI) telah melakukan kajian potensi pengembangan wisata species berbasis masyarakat (WSBM) dan melakukan uji coba pertama kalinya pada Sabtu (21/11/2021) kemarin.

Kegiatan pengembangan Wisata Spesies Berbasis Masyarakat yang dilakukan Reef Check Indonesia di Raja Ampat ini bekerja sama dengan stakeholder terkait lainnya seperti BKKPN Kupang Satker Raja Ampat, BLUD UPTD Raja Ampat, Kader Manta, PADRA, CI – Indonesia, Pili Greenwork, YAPEKA, jaringan Universitas di Sorong dan masyarakat Kampung Meosmanggara.

Atraksi utama trip wisata Kampung Meosmanggara, pengamatan Pari manta.

Kajian pengembangan Wisata Spesies Berbasis Masyarakat (WSBM) ini juga dilakukan berdasarkan kajian Reef Check Indonesia dengan mempertimbangkan
pengembangan wisata lestari di dalam kawasan konservasi yang telah diinisiasi oleh BKKPN Kupang dan BKKPN Kupang Satker Raja Ampat serta masukan dan saran dari mitra strategis seperti BLUD UPTD Raja Ampat, Dinas Pariwisata Raja Ampat dan mitra terkait lainnya

Dalam uji coba tersebut, YRCI mengajak media massa dan agen travel lokal bersama sejumlah stakeholder terkait untuk menjadi wisatawan domestik dalam one day trip atau wisata sehari di Kampung Meosmanggara, Distrik Waigeo Barat Kepulauan. Sebagai salah satu alternatif wisata di Raja Ampat, trip wisata Kampung Meosmanggara ini akan memberikan pengalaman unik dan tak terlupakan bagi wisatawan domestik yang berkunjung.

Yayasan Reef Check Indonesia (YRCI) sebagai salah satu penanggung jawab dari proyek Coral Reef Rehabilitation and Management Program – Coral Triangle Initiative (COREMAP -CTI) yang dikelola oleh Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) bersama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) menginisiasi program WSBM dengan berpusat di Kampung Meosmanggara utamanya menargetkan wisatawan domestik yang menyukai wisata bawah laut yang dapat dibilang low budget ini. Karena, dalam paket wisata ini, atraksi utamanya adalah mengamati spesies endemik Raja Ampat, yaitu Pari Manta, yang dapat dilakukan hanya dengan free dive dan atau snorkeling, walaupun terdapat juga pilihan bagi scuba diving.

Lalu terdapat jenis industri penunjangnya adalah pembuatan sabun kelapa serta  re-packaging dan peningkatan kualitas produk lokal dimana masyarakat kampung Moesmanggara juga mengolah ikan asin dan senat atau alas tikar khas Raja Ampat yang semuanya dikatagorikan sebagai handicraft atau oleh-oleh.

Kepala Kampung Meosmanggara, Yambres Mambrasar mengaku sangat mendukung kesempatan dan peluang bisnis pariwasata bagi kampungnya yang diberikan YRCI melalui program WSBM ini. Ia senang melihat pemuda-pemuda kampungnya mulai belajar dan terlibat aktif sebagai guide lokal dalam trip wisata ini. Ia pun meminta dukungan dari berbagai pihak, khususnya pemerintah daerah untuk semakin meningkatkan kualitas pemahaman kepariwisataan bagi para pemuda Kampung Meosmanggara agar mereka pun dapat menjaga alam laut Kampung Meosmanggara yang terkenal dengan Pari manta dan hiu karangnya di Raja Ampat.

“Saya berterima kasih atas dukungan dan kesempatan yang diberikan bagi kami, khususnya anak-anak muda kami ini,” ujar Yambres Mambrasar. (SM14)

Pos terkait