KOTA SORONG – Upaya memperkuat etika pariwisata, keamanan wisatawan, dan budaya pelayanan yang menghargai martabat manusia menjadi semakin relevan seiring meningkatnya kunjungan wisatawan ke berbagai destinasi di Indonesia.
Tidak hanya di kota besar atau destinasi premium, isu seperti catcalling, interaksi yang tidak sensitif gender, serta pengambilan foto tanpa izin mulai muncul di destinasi komunitas dan geopark. Hal ini menandai perlunya standar pelayanan dan edukasi yang lebih serius untuk memastikan bahwa pariwisata Indonesia tumbuh dengan tetap menjunjung prinsip keberlanjutan sosial dan keamanan bagi semua pengunjung.
Riset lapangan yang dilakukan pada komunitas pengelola geosite di Raja Ampat menunjukkan tantangan nyata dalam etika interaksi wisata. Analisis pre-test di Misool dan Yefman, dua kampung dengan tingkat kesiapan pariwisata yang berbeda, menemukan bahwa masyarakat cepat memahami konsep dasar geopark, geosite, dan mitigasi bencana, namun masih lemah dalam aspek etika komunikasi, terutama menyangkut catcalling, sikap sopan kepada wisatawan perempuan, serta pemahaman mengenai alasan pentingnya izin foto atau video komersial.
“Evaluasi yang dilakukan pada dua kelompok pengelola dari dua destinasi yang berbeda di Raja Ampat ini menunjukkan hasil menarik. Masyarakat Misool yang sudah terbiasa menerima tamu memperlihatkan kesiapan GEDSI yang lebih baik, sementara Yefman sebagai calon destinasi baru masih berada pada tahap awal pembentukan sikap layanan. Pola ini sejalan dengan standar UNWTO yang menegaskan bahwa perubahan perilaku membutuhkan contoh, praktik, dan pembiasaan, bukan sekadar ceramah atau teori.” Ana R Septiana, M.Si ahli Ekologi Raja Ampat UNESCO Global Geopark yang langsung melakukan riset implementasi ini selepas menyelesaikan kursus Sustainable Tourism Short Course Indonesia, Fiji, and Solomon Island di Griffith University – Australia beberapa waktu lalu.
Untuk memperkuat analisis tersebut, implementasi yang sama juga akan dilakukan di Pokdarwis Desa Wae Lolos, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Indonesia, oleh Roseven Rudiyanto, S.Hum., M. Tourism – Dosen Program Studi DIII Ekowisata Politeknik eLBajo Commodus di akhir November ini.
Sebagai bagian dari upaya memperluas dampak inisiatif, tim alumni Australia Awards Sustainable Tourism Short Course – Batch 9, yang diwakili oleh Nukeu Novia Andriani S., MM.Par – Dosen Pengelola Konvensi dan Acara Politeknik Wilmar Bisnis Indonesia – Sumatera Utara dan Herdi Heryadi S.St.Par – Founder dari EastXperience melakukan kunjungan resmi (courtesy call) ke Politeknik Pariwisata NHI Bandung. Pertemuan ini membawa modul pembelajaran “Securing Tourist Experience: Preventing Catcalling and Unsolicited Photography”, yang relevan dengan perkembangan pariwisata modern dan berpijak pada pengalaman lapangan seperti di Raja Ampat dan Manggarai Barat.
Direktur Politeknik Pariwisata National Hotel Institute (NHI) Bandung, Dr. Anwari Masatip, MM. Par., menyampaikan apresiasi dan komitmen yang kuat, serta menyambut baik inisiatif para alumni Australia Awards yang dinilai tidak hanya berkualitas, tetapi juga penting untuk membangun destinasi wisata yang aman dan nyaman bagi semua.
“Poltekpar Bandung akan segera mengintegrasikan materi ini ke dalam kurikulum agar mahasiswa memahami bukan hanya teori, tetapi juga praktik perlindungan wisatawan dan etika layanan. Dengan kolaborasi ini, kami yakin Poltekpar Bandung dapat terus menjadi pelopor dalam mencetak profesional pariwisata yang bertanggung jawab.” ujarnya.
Dalam kesempatan terpisah, Danesta F Nugroho, Kepala Bidang Pengembangan Masyarakat Sadar Wisata, Kementerian Pariwisata, sebagai salah satu anggota tim Australia Award Alumni – Batch 9, menyampaikan bahwa isu keamanan dan kenyamanan wisatawan tidak bisa lagi dianggap pelengkap. Ini adalah fondasi reputasi destinasi.
“Upaya kami dalam mengangkat topik catcalling, izin fotografi, dan etika interaksi sangat relevan dengan penguatan desa wisata sebagai bagian dari pengembangan pariwisata inklusif dan berkelanjutan di seluruh Indonesia. Kami melihat potensi besar untuk mengarus-utamakan materi ini ke dalam pembinaan desa wisata secara nasional. Untuk membuka ruang kolaborasi lebih lanjut, kami akan mencoba menjalin kolaborasi dengan Kementerian PPPA, dan stakeholder-stakeholder kunci lainnya,” jelasnya.
Program Beasiswa Australia Award – Sustainable Tourism Short Course – Indonesia, Fiji, and Solomon Island, yang merupakan kolaborasi dari Pemerintah Australia dan Griffith University di tahun 2025 ini memberi kesempatan pada 25 awardee dari tiga negara, yang telah menyelesaikan rangkaian kursus yang dilaksanakan di Australia. Mengambil pelajaran dari sana, kelima alumni, Ana, Roseven, Nukeu, Herdi, dan Danesta yang mengimplementasikan program GEDSI ini meyakini bahwa transformasi pariwisata Indonesia tidak cukup dengan infrastruktur dan promosi. Kebutuhan akan budaya layanan yang aman, menghargai martabat manusia, dan sensitif terhadap gender serta konteks sosial sudah menjadi bagian yang penting untuk dikembangkan. Dari Raja Ampat, Manggarai Barat, hingga Bandung dan Sumatera Utara. Kolaborasi ini membuka jalan menuju pariwisata yang lebih beradab, profesional, dan berkelanjutan.
Indonesia kini berada pada momentum penting, yakni membangun destinasi yang tidak hanya indah secara fisik, tetapi juga aman, beretika, dan manusiawi. Kerja bersama komunitas, akademisi, dan pemerintah adalah fondasi dari masa depan pariwisata yang kita inginkan. (SM)







