Habiskan Weekend di Waisai, Kadisporaparekraf PBD Dorong KTH Warkesi Naik Kelas

WAISAI, RAJA AMPAT – Keindahan Raja Ampat bukan hanya surga bawah laut, tapi juga keanekaragaman hayati teresterial, baik jenis satwa, tumbuhan maupun pohon. Dan primadona di Kota Waisai adalah burung cendrawasi endemik, Cendrawasih merah atau Red Bird of Paradise (BoP) dan Cendrawasih botak atau Wilson BoP. Dua cendrawasih endemik Waigeo ini merupakan atraksi utama yang dikelola oleh Kelompok Tani Hutan (KTH) Warkesi dan selalu menjadi objek wisata di Kota Waisai yang dikunjungi khususnya oleh wisatawan pengamat burung mancanegara.

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disporaparekraf) Yusdi N. Lamatenggo bersama mitra pembangunan pemerintah, FFI Tanah Papua berkesempatan menghabiskan waktu selama 2 hari 1 malam (2D1N) dengan berkemah dilokasi Camping Ground milik KTH Warkesi yang telah disiapkan untuk wisatawan yang ingin merasakan langsung salah satu surga burung di Waigeo, Raja Ampat.

Bacaan Lainnya

Menyebut KTH Warkesi sebagai salah satu lokasi pengamatan burung (spot birdwatching) terbaik di Raja Ampat bukanlah sebuah ungkapan berlebihan. Terdapat burung-burung populer yang kerap menjadi ‘target’ pengamatan para fotografer burung atau para twitcher, yakni pengamat burung yang menggunakan checklist target burung.

Beberapa burung populer di KTH Warkesi selain Cendrawasih merah dan Cendrawasih botak, yakni Kukabura atau Raja udang irian (Dacelo gaudichaud), Julang Papua atau Hornbill (Rhyticeros plicatus), Cekakak pita biasa (Tanysiptera galatea), Papua Frogmouth (Podargus papuensis), Pungguk Papua atau Papuan Boobook (Ninox theomacha), dan  Pergam pinon (Ducula pinon). Juga beragam jenis burung paruh bengkok, seperti diantaranya Nuri Bayan (Eclectus roratus), Kakatua jambul kuning (Cacatua sulphurea), Kakatua Raja (Probosciger aterrimus) dan lainnya.

Baca Juga:  Ribuan Warga KKST Raja Ampat Menunggu Ketua Baru

Yusdi Lamatenggo bersama Andhy P. Sayogo, Koordinator FFI Tanah Papua melakukan berbagai aktifitas pengamatan yang dimulai di sore hari Jumat (06/02/2026) untuk mengamati hiruk pikuk burung yang kembali ke sarang mereka setelah berakfititas di siang hari, seperti diantaranya Julang Papua, Nuri Bayan, Kakatua jambul kuning, dan Kakatua Raja. Menggunakan Binokuler dan sesekali mendokumentasikan dengan kamera, keriuhan burung-burung kelompok paruh bengkok di-imbangi kepakan keras sayap puluhan Julang papua meramaikan langit Warkesi dipenghujung petang.

Aktifitas pengamatan dilanjutkan pada malam hari untuk burung tipe nokturnal, seperti Papuan Boobook. Burung hantu satu ini cukup mudah didekati sehingga beberapa kali, Yusdi bersama rombongan mendokumentasikan melalui kamera smartphone.

Mantan Kadispar Raja Ampat ini pun melanjutkan dengan makan malam bersama menyantap ikan bakar disertai obrolan ringan bersama tim mitra prmbangunan dan pengelola KTH Warkesi. Obrolan yang disertai tawa dan candaan ini, kemudian berlanjut dengan diskusi mendalam ditemani banyak gelas kopi, pisang dan singkong goreng tentang rencana pengembangan lebih lanjut KTH Warkesi, yang dibungkus dalam topik KTH Warkesi Harus Naik Kelas. Perbincangan dan tukar pikiran yang berfokus pada merancang masa depan KTH Warkesi sebagai spot wisata Birdwatching tingkat global ini diakhiri pada larut malam seiring dengkur burung hantu Papuan boobook.

Mengawali pagi hari sabtu (07/02/2026) dengan briefing singkat Standard Operational Procedure (SOP) bersama wisatawan mancanegara lainnya, Yusdi dan Alex beserta rombongan menuju hidding spot pengamatan Cendrawasih merah. Menurut Ketua KTH Warkesi, Alfian Sopuiyo, Cendrawasih botak untuk sementara belum dapat diamati dikarenakan sedang tidak beraktifitas pada 6 hidden spot yang disiapkan pengelola KTH Warkesi.

Menempuh jarak kurang lebih 842 M selama 50menit, rombongan Yusdi dan Alex tiba di hidden spot pengamatan bersama kurang lebih 8 wisatawan mancanegara yang juga ingin melihat keindahan tarian burung surga endemik Waigeo ini. Keberuntungan masih berpihak pada para tamu KTH Warkesi kali ini, dimana 12 ekor Cendrawasih merah, yakni 8 ekor jantan dan 4 ekor betina meliuk-liuk indah diujung dahan pohon yang disebut Lek. Sahut-sahutan dan kicauan khas burung surga ini menambah momen syahdu panorama bukit KTH Warkesi yang disinari matahari pagi dari ujung timur selama kurang lebih 2 jam atraksinya. Rombongan Yusdi dan Alex kemudian kembali menuju Checkpoint KTH Warkesi untuk sarapan.

Baca Juga:  Launching PETATAS, Kini Akses Potensi Investasi Pariwisata Raja Ampat Bisa Lewat Gadget Pintar

Menutup seluruh rangkaiannya dalam menghabiskan waktu libur dan mengunjungi salah satu KTH binaan bersama FFI Tanah Papua dan BBKSDA Provinsi Papua Barat Daya, sebagai Kadisporaparekraf Provinsi Papua Barat Daya, Yusdi sangat senang KTH Warkesi telah terus berkembang mengikuti perkembangan tren Pariwisata di Indonesia. Ia berharap, rencana ‘Naik Kelas’ yang telah dibahas pada malam hari sebelumnya segera direalisasikan dan ia pun menjelaskan dukungannya dalam hal tersebut. (SM14)

Pos terkait