Rangkaian Study Visit Cagar Biosfer Rinjani Pemprov PBD; Amati, Tiru, Modifikasi

LOMBOK, NTB  – Rombongan Pemerintah Daerah Papua Barat Daya beserta mitra yang mewakili para stakeholder dilingkup Geopark dan Cagar Biosfer (CB) Raja Ampat melakukan study visit tata kelola Geopark dan CB Rinjani – Lombok pada 16 – 22 Juni 2026. Rombongan berangkat, Rabu (17/06/2026) dari Bandara DEO Sorong dan tiba di Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid, Lombok. Ikut dalam kegiatan tersebut Pemprov Papua Barata Daya, pejabat dilingkup Kabupaten Sorong, Kabupaten Tambrauw dan Kabupaten Raja Ampat, Balai Pengelolaan Kelautan (PK) Kupang Satuan Kerja Raja Ampat, perwakilan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua Barat Daya. Bersama Fauna dan Flora Indonesia Tanah Papua, BBKSDA Papua Barat Daya berinisiasi menyelenggarakan Studi Visit ini.

Turut ikut mitra Papua Barat Daya, seperti Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Papua Barat Daya, Association of Indonesians Tours and Travel Agencies (ASITA) Papua Barat Daya, perwakilan Asosiasi Homestay Raja Ampat, perwakilan pengelola Kelompok Tani Hutan (KTH) di Raja Ampat, Yayasan Cahaya Anak Papua (YCAP) Raja Ampat. Dan tak lupa, Badan Pengelola (BP) UGGp dan Cagar Biosfer Rinjani – Lombok yang membersamai seluruh rangkaian visitasi rombongan Papua Barat Daya yang menciptakan suasan hangat dan akrab sebagai sesama penyandang dua status internasional dari UNESCO.

Visitasi pertama di Lombok adalah pertemuan resmi dengan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat beserta mitra dan pemangku kepentingan dalam wilayah Geopark dan Cagar Biosfer Rinjani Lombok. Dimana kepala Bappeda Provinsi Nusa Tenggara Barat, dan General Manager (GM) Badan Pengelola UGGp dan CB Rinjani – Lombok memberikan sambutan dan ucapan selamat datang kepada rombongan Papua Barat Daya.

Pertemuan dilanjutkan paparan yang berfokus pada kelembagaan dan kemitraan dengan turut hadir perwakilan akademisi dari Universitas Mataram. Momentum berkembang menjadi proses temu tukar belajar pengalaman antara Bappeda Provinsi NTB dan BP Geopark dan CB Rinjani – Lombok dan Rombongan Studi Visit. Lalu rombongan pun melanjutkan berkunjung ke Kantor UGGp Rinjani dan pojok Creativity Hub, dimana banyak pertukaran ide penuh kreatifitas yang terjadi dan rombongan terkesan dengan hubungan kemitraan yang tercipta.

Baca Juga:  Serahkan SK CPNS tahun 2018, Bupati : Saya Hanya Sebagai Penyalur Berkat

Perjalanan kemudian berlanjut dengan mengunjungi museum nasional Nusa Tenggara Barat. Dimana rombongan studi visit melihat bagaimana sebuah pengelolaan atraksi wisata budaya yang dipersembahkan sebagai kebanggaan masyarakat Lombok atas sejarah adat budaya dan hubungannya dengan peninggalan geologi dan ekologi serta sejarahnya yang walaupun pulau Lombok terhitung pulau muda yang terbentuk, namun turut mempengaruhi alur sejarah dibelahan bumi lainnya. Di Museum nasional NTB ini juga rombongan melihat hubungan antara Papua dan NTB melalui sebuah pohon Matoa berumur 25 tahun yang memperindah halaman museum.

Kegiatan hari berikutnya, menuju Desa wisata Aik Berik, Lombok Timur. Desa wisata yang pada tahun 2024 menerima penghargaan Anugerah Desa Wisata ini memiliki beberapa atraksi wisata air terjun yang terkenal, salah satunya adalah Air Terjun Kelambu Benang Stokel. Setelah menyaksikan kemegahan air terjun yang terjurai seperti benang-benang kelambu, BP Geopark Rinjani – Lombok pun menjelaskan peristiwa pembentukan air terjun ini yang juga merupakan keunikan geologi yang dimiliki Geopark Rinjani – Lombok.

Bertemu dengan Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Rimba Lestari dan Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Benstol serta KUPS Benang Stokel, memberikan sudut pandang dan wawasan baru bagi rombongan studi visit mengenai skema pengelolaan komunitas-komunitas lokal, pelaku usaha wisata, dan dukungan masyarakat sekitar wilayah kepada objek wisata. Bagaimana sebuah Code of Conduct (CoC) dan Standar Operation Procedure (SOP) menjadi keputusan bersama yang harus ditaati lalu menjadi budaya bernama Awik-awik, dilaksanakan penuh kesadaran. Hal ini pun karena dukungan Pemda setempat dengan peningkatan kualitas SDM dan status penting desa Aik Berik sebagai salah satu sumber air bersih utama Pulau Lombok.

Rombongan pun bergerak menuju Sembalun menyusuri jalan raya mendaki kaki lereng selatan Gunung Rinjani menuju landscape view pemandangan puncak yang mencapai 2.500 meter diatas permukaan laut (mdpl), yakni Taman Wisata Pusuk Sembalun. Sepanjang perjalanan menyaksikan dan berinteraksi dengan lutung atau kera, penghuni asli gunung. Udara segar pegunungan pun mengantarkan sensasi rasa dingin di villa-villa yang menjadi tempat melabuhkan rasa lelah peserta study visit Papua Barat Daya.

Pada pagi hari ketiga, pemandangan Gunung Rinjani menyambut matahari pagi menjadi atraksi wisata baik selfie maupun swafoto para peserta. Sudut-sudut foto terbaik pun telah disiapkan dan menjadi ruang terbuka yang masuk dalam denah maupun tata letak bangunan villa-villa disekitar kaki gunung ini. Bukan hanya Rinjani, tapi juga jajaran bukit-bukit yang gagah berdiri menjadi landscape yang memukau.

Baca Juga:  Apel Perdana 2026, Bupati Refleksi Kinerja 2025 

Hari ketiga ini, rombongan studi visit Papua Barat Daya melihat proses langsung bagaimana pengelola Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) memastikan pendaki, pengunjung dan wisatawan di kawasan taman nasional Rinjani aman, tertib dan menjaga kebersihan gunung Rinjani maupun rute-rute menuju puncak bukit yang kini mulai dibuka sebagai jalur pendakian baru, yang dikenal dengan tujuh puncak atau seven summit. Rombongan juga mengunjungi Klinik Nusa Medica yang telah resmi beroperasi per tahun 2026 yang turut mengurus asuransi para pendaki Rinjani dalam dua bentuk, reguler dan premium. Rombongan juga mengunjungi Gedung Pusat Informasi Geologi (PIG) UGGp Rinjani – Lombok.

Usai di Sembalun, rombongan study visit menuju Desa wisata Karang Bajo di Kecamatan Bayan, Lombok Utara. Disini, peserta melihat dan mempelajari konsep pelestarian adat budaya yang memberikan asas manfaat kepada sebuah komunitasnya dan juga pengembangan ekonomi kreatif melalui kerajinan cinderamata bagi wisatawan.

Perjalanan rombongan berlanjut menuju Hotel Merummata Senggigi, Lombok Barat, dimana setelah tiba, rombongan menikmati salah satu pemandangan matahari terbenam paling indah di pulau Lombok, karena menghadap langsung Gunung Agung di pulau Dewata Bali. Setelah beristirahat sejenak, rombongan melanjutkan sesi diskusi dan sharing dalam momen refleksi harian.

Sebagai hari terakhir dalam rangkaian perjalanan study visit Rinjani – Lombok rombongan Provinsi Papua Barat Daya Muhammad Hanif Fikri, mewakili rombongan Raja Ampat menyampaikan beberapa temuan positif selama studi visit yang dilakukan rombongan Papua Barat Daya. Dirinya menjelaskan bagaimana peserta melihat bahwa terdapat beberapa pembelajaran berharga yang bisa diterapkan, seperti pertama adalah kebutuhan kepengurusan yang memahami mekanisme kerja Cagar Biosfer dan UGGp Raja Ampat serta karakter pemerintahan dan masyarakat Raja Ampat.

Poin kedua, yang dijelaskannya, yakni komitmen pengelolaan Cagar Biosfer dan UGGp akan lebih baik jika masuk dalam Peraturan Daerah (Perda) yang mendukung penguatan kelembagaan. Selain itu, peran narahubung antara eksekutif dengan program-program dan yudikatif di unsur pemerintah akan semakin memudahkan pelaksanaan program kerja dan mempermudah identifikasi peran masing-masing pihak terkait skema yang ada dari aspek kelembagaan, kepemimpinan, legalitas dan kemitraan dari progam CB dan UPPg. Menurutnya, studi banding ini dirasa sudah cukup membantu dalam menyusun langkah kedepan.

Baca Juga:  Edaran Gubernur Papua Barat dan Bupati Raja Ampat, Polres dan Dispar Laksanakan Sosialisasi dan Pengawasan Langsung

Dirinya juga melihat banyak contoh ekosistem pariwisata yang optimal seperti di Aik Berik yang menghubungkan Pokdarwis–GaPoktan–UMKM terutama dalam pembagian peran dan skema benefit sharing dari aktvitas pariwisata. Terlihat juga mereka merasakan bahwa komitmen kuat dari akar rumput, nilai kejujuran, transparansi dan keadilan dijunjung tinggi adalah modal utama dalam keberlanjutan aktivitas, dimana ternyata kelompok di tingkat desa tidak harus formal, yang penting kerja keras dan komitmen menjaga kampung sendiri.

Selain itu, peserta juga melihat bahwa dukungan dari UGGp dan CB Rinjani-Lombok dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, yaitu skema hukum adat Awig-awig berjalan beriringan dengan hukum positif negara, dan tidak dikotomikan. Juga adanya skema manajemen keuangan dan SOP dari tiap aktivitas tersusun rapi dan hadir saling melengkapi. Selama kunjungan lapang, juga dapat merasakan kebanggaan yang dimiliki oleh komunitas karena diakui dengan status ganda internasional (Geopark + CB).

Dan yang terpenting, dari semua hal positif tersebut, tercipta multiplier economic effect signifikan yang melibatkan banyak pihak dan saling menghidupi satu sama lain. Promosi budaya lokal terintegrasi dalam pariwisata menjadi nilai tambah yang khas. Peserta juga terkesan bahwa perempuan memiliki peran aktif di berbagai sektor termasuk aktivitas trekking, pengangkutan penumpang ke destinasi wisata, dan tentunya UMKM. Sehingga menyimpulkan, bahwa UGGp dan CB Rinjani-Lombok telah melalui proses yang panjang dalam menentukan kelembagaan yang ideal, perbaikan tata kelola dan skema pembiayaan berkelanjutan.

Serta adanya Inklusivitas dalam penyusunan dokumen SOP, dan evaluasi secara reguler untuk perbaikan tata kelola yang dapat dan bisa menjadi contoh baik bagi Raja Ampat, yakni dengan pendekatan ATM, atau Amati, Tiru, dan Modifikasi. (SM14)

Pos terkait