SAPORKREN, RAJA AMPAT – Dinas Kesehatan Raja Ampat melalui Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, merencanakan program inovasi berupa penanganan penyakit menular Tubercolosis (TBC) dengan nama program Bestirawit atau singkatan dari Bebas TBC Raja Ampat Wisata, dengan inisiasi awal adalah Kampung Wisata Saporkren.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Aman Gusti yang juga ada peserta PKA Angkatan XVIII 2025 LAN Makassar menjelaskan bahwa Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Menurutnya, Raja Ampat sebagai Kabupaten Pariwisata harus dapat memiliki status zero TBC, atau kasus nihil TBC. Hal ini dapat ditempuh dengan metode penurunan kasus didaerah wisata, yang didalamnya melibatkan kolaborasi antara sektor kesehatan dan pariwisata, dengan fokus pada deteksi dini, pencegahan penularan, dan edukasi bagi wisatawan serta pekerja pariwisata.
“Untuk inisiasi awal program ini, kami mencoba di Kampung Wisata Saporkren, dengan beberapa pertimbangan, seperti akses terdekat dengan kota Waisai, terkenal dengan kampung wisata burung, serta kampung yang memiliki hasil utama perikanan,” papar Aman Gusti pada sebuah pertemuan yang dilaksanakan dengan masyarakat Kampung Saporkren.
Kepala Distrik Waigeo Selatan, Erni Kome S.E, mengapresiasi program inisiasi yang dicanangkan oleh Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit yang dilaksanakan di Kampung Wisata Saporkren. Ia bersama Kepala Kampung Saporkren, Levinus Dimara, berharap masyarakat dapat mengikuti kegiatan ini dengan baik dan penuh antusias. Kampung wisata Saporkren yang total memiliki 170 KK ini cukup aktif dengan aktivitas wisata dan berinteraksi dengan wisatawan, sehingga kesehatan terhadap penyakit yang mudah menular adalah sebuah keharusan.
“Saya akan terus himbau kepada masyarakat kampung agar mengikuti arahan dan dukungan program ini demi kebaikan bersama masyarakat kampung Saporkren,” ujar Kepala Distrik Waigeo Selatan yang diiyakan juga Kepala Kampung Saporkren.
Hadir mendukung aktif program Bestirawit, dr. Andi spesialis penyakit dalam yang juga dari Kementerian kesehatan RI, menjabarkan harapannya agar inisiasi program inovasi yang dibawa dan dicanangkan oleh Aman Gusti dapat terealisasi dengan baik, dan masyarakat Kampung Saporkren dapat bebas dari penyakit TBC. Dirinya menggunakan kesempatan tersebut untuk menganjurkan beberapa tips kesehatan mencegah penularan TBC, seperti jaga jarak bersosialisasi, memastikan sirkulasi udara dan cahaya matahari yang baik di tempat tinggal, menggiatkan Imunisasi, memerbaiki gizi serta konsumsi vitamin untuk daya tahan tubuh.
“Sementara ini, Indonesia nomor 2 penyakit TBC di dunia, jadi perlu kerjasama kita untuk membuat Kampung Saporkren menjadi Kampung Wisata Bebas TBC,” pesan dr. Andi.
Menurut paparan Aman Gusti, sementara terdapat enam orang pasien TBC yang sedang mendapatkan perawatan intensif dari kolaborasi bersama Puskesmas Saonek, Dinas Sosial Raja Ampat, Dinas Kesehatan Raja Ampat, Bappeda Raja Ampat, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kampung Raja Ampat, dan Dinas Pariwisata Raja Ampat, yang berkat kerjasama tersebut, empat orang direncanakan akan sembuh ditahun 2025 ini, lalu dua orang berikutnya akan sembuh ditahun 2026. Setelah itu, dengan bekerjasama yang lebih diintensifkan lagi sebagaimana dalam metode penurunan kasus TBC didaerah wisata, akan berlanjut menjaring informasi suspect-suspect TBC, yang diharapkan tidak ada kasus baru TBC di Kampung Saporkren. Kemudian akan dilanjutkan dengan kampung-kampung lainnya, sehingga Raja Ampat diharapkan akan zero TBC atau kasus nihil TBC. (SM14)







