RDP Insiden Keracunan MBG, DPRK Raja Ampat Evaluasi 3 Hal Utama ini  

RDP DPRK Raja Ampat bersama pihak-pihak terkait insiden keracunan MBG di Kota Waisai, Selasa (02/12/2025)

WAISAI, RAJA AMPAT – Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang berlangsung hampir tiga jam yang diakomodasi oleh Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Raja Ampat menghadirkan sejumlah pihak terkait insiden keracunan siswa-siswi serta tenaga pendidikan yang mencapai 82 korban per hari ini, Selasa (02/12/2025) dilaksanakan di Kantor DPRK Raja Ampat.

Sejumlah pihak yang hadir diantaranya pengurus dan anggota Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Raja Ampat, Dinas Kesehatan Raja Ampat, Perwakilan Yayasan dan Lembaga Pendidikan di Raja Ampat, Pengelola Dapur MBG, serta para anggota DPRK Raja Ampat. RDP dipimpin langsung oleh Ketua DPRK Raja Ampat, M. Taufik Sarasa.

Bacaan Lainnya

Ditemui awak media usai RDP, Taufik Sarasa menjelaskan tiga hal utama yang dievaluasi oleh DPRK setelah RDP bersama berbagai pihak terkait yang harus menjadi perhatian Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Raja Ampat yang memiliki fungsi utama yakni; memastikan kepatuhan penyedia makanan (SPPG) terhadap standar keamanan pangan, mulai dari pemilihan bahan baku hingga pengolahan dan pendistribusian makanan. Lalu, melakukan evaluasi rutin, memberikan pelatihan, serta berkoordinasi dengan berbagai instansi seperti Kementerian Kesehatan dan BPOM untuk mencegah insiden keamanan pangan yang merugikan penerima manfaat.

Dijelaskan Taufik Sarasa, tiga hal utama hasil evaluasi ini adalah pertama terkait Bahan makanan yang bukan hanya harus dipastikan kualitas dan mekanisme penyiapannya, tapi juga diharapkan menggunakan bahan makanan lokal Raja Ampat yang lebih segar dan sehat seperti ikan. Kedua, jumlah dapur MBG perlu ditambah agar selain jumlah penerima manfaat yang per Dapur 2.400 ini, dapat mengakomodir wilayah Raja Ampat yang berupa kepulauan sehingga beban kerja tidak menekan proses penyiapan dan penyajian MBG. Dan ketiga, terkait standard Operation Procedure (SOP) mengenai durasi penyiapan MBG hingga sampai ditangan siswa-siswi disekolah yang terlalu lama sehingga ditenggarai menjadi pemicu utama makanan menjadi tidak segar dan tidak aman dikonsumsi dan mengakibatkan keracunan.

Baca Juga:  HQST Raja Ampat : Akan Jadi Magnet Baru Pariwisata Indonesia

“Hal-hal ini harus menjadi perhatian BGN Raja Ampat agar dievaluasi secara menyeluruh, agar tidak lagi terjadi kelalaian luarbiasa seperti ini yang tidak bisa dihindari, dimana kita sadari, ini bukan faktor kesengajaan,” ujar Ketua DPRK Raja Ampat. (SM14)

Pos terkait