Kisah Dua Sosok Guru Lintas Iman, Lintas Suku: Merawat Persatuan di SMTKN Pelita Sambab 

MANOKWARI – Di tengah keberagaman yang kerap menjadi tantangan, kisah inspiratif justru tumbuh dari ruang-ruang sederhana di sebuah sekolah di Papua Barat. Di sini, perbedaan bukan sekadar diterima, tetapi dirawat melalui keteladanan dua sosok guru yang berjalan di jalur berbeda, namun menuju tujuan yang sama: persatuan.

Adwiyah Nur Soleha datang sebagai seorang guru muda dengan latar belakang yang berbeda dari mayoritas siswa. Adwiyah mengabdikan diri sebagai guru Bimbingan Konseling di Sekolah Menengah Teologi Kristen Negeri (SMTKN) Pelita Sambab, Distrik Masni, Kabupaten Manokwari. Pengalamannya menjadi potret nyata kehidupan harmonis lintas iman di lingkungan pendidikan.

Pada awal masa pengabdiannya, Adwiyah sempat merasa kurang nyaman dengan kebiasaan siswa yang sering menyanyikan lagu rohani. Namun, seiring waktu, ia mampu beradaptasi dan memahami bahwa hal tersebut merupakan bagian dari keseharian siswa.

Tidak butuh waktu lama baginya untuk menyesuaikan diri. Sejak kecil, Adwiyah sudah terbiasa hidup berdampingan dengan masyarakat dari berbagai latar belakang, termasuk masyarakat Papua. Hal ini menjadi bekal penting dalam menjalani tugasnya di lingkungan sekolah yang mayoritas beragama Kristen.

Bagi Adwiyah, perbedaan keyakinan bukanlah batas, melainkan pintu masuk untuk membangun pemahaman. Dalam kelas, ia menanamkan nilai toleransi melalui cara sederhana; mengajak siswa menuliskan ayat-ayat kitab suci yang mengajarkan kebaikan dan kasih. Bahkan, dalam kesehariannya, ia justru kerap diingatkan siswa untuk menjalankan ibadah salat. Pengalaman itu menjadi bukti bahwa toleransi bisa tumbuh dari hubungan yang tulus. “Itu menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi saya,” ungkapnya.

Jika Adwiyah merawat harmoni lintas iman dari dalam kelas, maka semangat serupa juga hidup dalam sosok Emiria Ziliwu; guru senior yang telah mengabdi sejak 2006. Berasal dari Nias, Sumatera Utara, Emiria adalah representasi lain dari keberagaman: lintas suku, lintas pengalaman, dan lintas generasi.

Baca Juga:  PPDB 2024, Sekolah di Manokwari Diingatkan Terima Siswa Baru sesuai Daya Tampung

Adwiyah dan Emiria sama-sama percaya bahwa pendidikan bukan hanya soal ilmu, melainkan pembentukan karakter. Emiria menegaskan bahwa kunci utama dalam mengajar adalah kesetiaan dalam pengabdian. Di tengah keterbatasan tenaga pengajar di masa awal dan tantangan jarak tempuh siswa yang memengaruhi kehadiran, ia tetap melihat satu hal yang tak pernah surut: semangat belajar anak-anak Papua.

Sebagai guru Pengetahuan Alkitab di sekolah, Emiria memandang keberagaman sebagai kekuatan. Ia menyaksikan langsung bagaimana lulusan sekolah ini tidak hanya menjadi hamba Tuhan, tetapi juga berkiprah di pemerintahan. Baginya, keberhasilan pendidikan terletak pada kemampuan siswa menemukan peran mereka di tengah masyarakat yang majemuk.

“Banyak lulusan kami yang kini menjadi hamba Tuhan, tetapi tidak sedikit juga yang bekerja di pemerintahan,” ujarnya.

Kesamaan visi antara Adwiyah dan Emiria kemudian menemukan ruang yang lebih luas dalam kebijakan sekolah. Di bawah kepemimpinan Pelaksana Tugas Kepala Sekolah, Willem Buiswarin, SMTKN Pelita Sambab menegaskan komitmennya pada integritas, keimanan, dan keilmuan. Program moderasi beragama yang diinisiasi Kementerian Agama semakin memperkuat praktik keberagaman di sekolah ini, termasuk dengan melibatkan guru dari berbagai latar belakang agama.

“Sudah sekitar tiga tahun guru Muslim turut mengabdi di sini,” jelasnya.

Hasilnya terasa nyata. Dalam setiap perayaan keagamaan, batas-batas keyakinan melebur menjadi kerja sama. Guru Muslim turut aktif dalam kepanitiaan Paskah, sementara semangat kebersamaan tumbuh menjadi identitas bersama. Apa yang diajarkan di kelas oleh Adwiyah, dan apa yang dijaga oleh Emiria, bertemu dalam budaya sekolah yang inklusif.

“Yang paling menarik, misalnya pada kegiatan Paskah, teman-teman Muslim sangat antusias terlibat dalam kepanitiaan,” ujarnya.

Dari dua sosok dengan latar berbeda, satu lintas iman, satu lintas suku terajut satu benang merah: pendidikan sebagai ruang merawat kemanusiaan. Kisah mereka menjadi bukti bahwa toleransi tidak lahir dari teori, melainkan dari praktik sehari-hari.

Baca Juga:  Upacara Hardiknas, Bupati Hermus : Wujudkan Pendidikan Bermutu Bagi Semua

Dari SMTKN Pelita Sambab, sebuah pelajaran sederhana mengalir: ketika perbedaan dipahami sebagai kekuatan, maka persatuan bukan lagi cita-cita, melainkan kenyataan yang hidup. (SM)

Pos terkait